BOM Mob

Seolah dia menjadi panglima saat membaca sebaris ayat suci. Matanya gemerincing sayu sedetik kemudian melotot penuh. Di depan kaca ia berkata, ' hai ulat, hai kakap, siapapun kau, yang kusebut western life, matilah kau! go to hell, nikmati sayap patahmu. hahaha...'
Tawanya semakin laknat. Mukanya langgam. Hidungnya kusam seperti kucing yang sedang marah. Teriaknya lagi, "aku mulai tak sabar menusuk kau dari belakang. Aku ingin mencincang egomu. Aku ingin kakiku di atas kepalamu.."
"Buret, cukup celotehmu. Setiap pagi itu-itu saja pikiranmu. Mendingan kerja. Cepat." Ayahnya nyerempet masuk ke iga sangarnya tadi.
Tetapi, belum puas didepan kaca, diatas bak air meski tertutup sedikit lumut, ia masih demam menunjukkan taringnya. "Aku janji namaku tertancap di dinding surga. Aku yakin."
Di malam hari esoknya itu, berteman lilin temaram karena lampu padam, ia mulai merakit bom. Ayahnya tidak tahu menahu rencana fatal itu. Ayahnya yakin setiap malam sebelum tidur anaknya pulas karena belajar kitab suci. Tipikal seorang dermawan, pintar, religius, tapi pendiam. "Kalau ada peluang, aku punya keinginan Buret bisa jadi Polisi. Ia cocok dan telaten bila menjabatnya. Mudah-mudahan bisa terjadi. Tapi ingat ya bukan polisi pamong praja...hehehe" Candanya beberapa bulan sebelumnya.
Jam 3 pagi seriangai kokok ayam masih memekakan telinga tetangga. Bunyi hebat menggelegar. semua terbangun, dan sama-sama bertanya, "petasan siapakah itu?". Terlihat dari kejauhan api mulai merambat atap rumah Buret. Sontak semua warga berhamburan meski yang lain masih enak bermimpi. Mereka mendekat dan mendapati Ayah Buret terbujur kaku, hitam, hampir tidak dikenal. Kemudian berbondong-bondong mereka mendapati si Buret tewas mengenaskan. Kepalanya tepisah dari badan. Semua terkejut dan terheran-heran tapi air mata terus muntah tidak dapat diendus. Pikiran mereka langsung tertuju diatas onggok kepala Buret ada lusin karung berisi Karbit 'Mudah Meledak'.
Mereka menarik kesimpulan ternyata ulah Buret sendiri meledakkan dirinya sendiri. Ledakan sekelas karbit lukiskan betapa bodohnya manusia menggali kuburannya sendiri, mencari petakanya sendiri.
Buret malang, Buret meledak.




0 komentar: